Minggu, 18 Oktober 2009

LaKi LaKi


Label :Kaluku record
Genre :New pop
Recording :Musica
Mixing :Musica

Formasi
Aei :vocal
Zack :Keyboard
Boi :Drum
Yayan :bas
Fahmi :Gitar

Song list:

1.Laki laki part 2
2.Jangan aMbil dia
3.AJBM (Ak juga bs menangis)
4.Menunggu waktu (recycle album1)
5.Lelaki (Playboy)
6.1000 x
7.Pahamilah
8.Selalu untukmu
9.Dengarlah
10.TV



Band Laki laki bukan Lucky Laki (nya anak2 ahmad dhani lho) tengah ancang-ancang merilis album ke 2.Dengan mengganti front linenya dengan vocalis ganteng asal Kalimantan.sama seperti daerah asal personil lainnya.Tapi sama2 lahir bermusik di kota asal study mereka,YogyAkarta.
Laki laki mengusung new pop. Layaknya pop, notasi notasi manis dan lirik cinta yg mengharu biru mendominasi album ini. Beberapa nomor ada juga sih yg up tempo. Dengan sentuhan rock , dan dance beat. Juga lirik “bandel”, yg ngaku cowok memang kadang ada yg “bandel” hihi.. Ada juga tema yg ga nyangkut cinta2an.Hmm..Secara umum musik yg di bangun easy listening lah..Single hits mereka Jangan ambil dia menurut rencana, penggarapan video klipnya akan di garap Rizal mantovani




Ada beberapa nomor Laki laki yg menarik perhatianku. Di nomor menunggu waktu, misalnya, intro pianonya asik. Cm pas di brige, isian 2 feel gitarnya jd kyk delay modulasi, jd aku kurang nangkep euy.. atau mungkin memang sengaja pengen nuansa melayang ya.. Trus di nomor dengarlah.. keybordis berusaha keras (haiyaaa) bangun string lirihnya.Di lagu ini aku denger vocalnya “dapet”. feel nya berasa, bukan berarti lagu laen nggak bagus lho.. cm aku kenal kemampuan vocalnya aei , kl mo explore bisa “lebih” lagi sebenernya. Lagu part 2 jg kliatan hidup. Isian brass, string ma gitarnya “serasi”. Tap justru menurutku paling seger tuh kok lagu “TV”. Agak beda, mengingatkan influence era 90an. Dominasi syntezizer, and khas feel ‘bas’nya juga simple bunyi gitar nya itu lho.. Aku rasa lagu ini warna segar kl jd hitnya. Lom ada deh kayaknya band sekarang influence 90 an. 70 an ada naif,cangcuter, 80 an ada club eightees dll.. ya to.. (??)

Ok..akhir kata, semoga sukses album kedua nya.. apalagi vocalisnya ganteng gt..cewek2 bakal kleper2 deeh... Bravo laki laki

klk ini kl mo denger laguya
http://www.myspace.com/lakilaki2009

Rabu, 16 September 2009

DeBuTaN

SILAKAN KLIK IMAGENYA...

Selasa, 25 Agustus 2009

pLiiisss deeeh...


Pendet..Reog Ponorogo..Angklung..Batik..sampai Rendang..
Menjadi kata yang begitu sensitif akhir-akhir ini..Aku sempet bener2 nggak habis pikir, kenapa begitu nekat tetangga kita bikin aksi super cuek begitu.. Aku cuma bisa dengar satu alasan bagi mereka, yaitu keterikatan Nusantara dan Rumpun Melayu.

Aku coba pahami ya..

Menurut Literatur-literatur Eropa berbahasa Inggris (lalu diikuti oleh literatur bahasa lain, kecuali Belanda) pada abad ke-19 hingga sekarang sering menyebut wilayah kepulauan antara benua Asia dan Australia yang dihuni oleh cabang ras Mongoloid yang disebut ras Melayu (Malay), menggunakan satu rumpun bahasa yang sama (Austronesia), serta saling berhubungan satu sama lain dengan menggunakan satu corak bahasa Melayu (bahasa Melayu Pasar) sebagai Malay Archipelago ("Kepulauan Melayu").

"Nusantara" pada zaman Majapahit dan Kepulauan Melayu yang merupakan dasar dari konsep (Alam Melayu) adalah dua konsep yang memiliki kesamaan cakupan geografis namun terdapat perbedaan sejarah sehingga dua konsep ini tidak dapat digunakan untuk merujuk hal yang sama.

Konsep "Nusantara" murni berasal dari kebudayaan asli Indonesia (Majapahit). Hal ini terlihat dari kata Nusantara sendiri yang tidak diambil dari bahasa asing (India). Bangsa Indonesia sebagai keturunan asli (bukan pendatang) dari Majapahit memiliki hak mutlak atas terminologi Nusantara. Sebagai pewaris terminologi Nusantara, maka hakikat dari definisi terminologi ini yaitu wilayah negara adalah tetap. Jikalau pada asalnya Nusantara merujuk ke wilayah Majapahit, maka sekarang Nusantara merujuk pada wilayah Indonesia.

Sedangkan konsep Kepulauan Melayu sebenarnya digunakan oleh bangsa asing untuk merujuk wilayah dimana penduduknya menggunakan rumpun bahasa Austronesia. Penggunaan kata Melayu sendiri tidak dimaksudkan untuk merujuk pada suku Melayu, namun lebih kepada karena kata "me-la-yo" yang ditemukan di Jambi merupakan kata tertua pada saat itu. kata "me-la-yo" ini sebenarnya hanya merujuk sebagian kecil wilayah jambi dan tidak memiliki cakupan seluas "Nusantara". Pada perkembangannya sebagian penduduk di Asia Tenggara menyalah artikan kata Kepulauan Melayu sebagai konsep epicentris dimana Melayu (Melayu Malaysia) sebagai pusat peradaban di wilayah Kepulauan Melayu (Austronesia).[rujukan?]

Dari kesalahan arti Kepulauan Melayu, kemudian juga berkembang konsep [ras Melayu]]. Konsep ini jelas merupakan suatu kesalahan karena etnis Melayu merupakan salah satu kelompok etnis, sama seperti Jawa, Sunda, Bali, dll.

Mengingat penyimpangan dari konsep Kepulauan Melayu ini dan juga perbedaan sejarah dari kedua terminologi maka terminologi Nusantara dan Kepulauan Melayu adalah terminologi yang berbeda.

Jadi....
Lebih dari urusan teritorial.. Kebudayaan lahir dari identitas suatu bangsa bukan teritorial.Korelasinya kok aku nggak nemu ya... Lalu kenapa juga Singapura, Brunai bahkan Philipina (dalam cakupan wilayah yg lebih kecil) Nggak ada tuh yg cuek ikut mengidentitaskan diri pada unsur kebudayaan Indonesia atau nusantara lah..
..

Begitu krisis kah kekayaan Budaya tetangga kita yang satu itu..?? maaf untuk teman2 dari negri tetangga..tapi ini sudah sangat berlebihan..