Titik 0
Jantungnya berdegup keras seolah sengaja menghajar dadanya tanpa ampun. Begitu kerasnya hingga mampu menekan ulu hatinya ̶ membuatnya kesulitan bernafas. Susah payah ia membuat nafasnya tetap teratur, menghirup udara melalui hidung dan mengeluarkannya perlahan melalui mulut. Ia sangat berusaha agar rongga paru-parunya bisa memompa darah ke jantung dengan sempurna. Namun sepertinya sia-sia saja usahanya. Nafasnya kian memburu, keringat dingin mulai mengucur deras di punggung dan dahinya. perih akibat peluh yang membasahi lecet-lecet di punggungnya tak dihiraukannya. Sungguh ini bukan seperti detak jantung orang normal. Detak jantungnya sangat cepat dan keras. Begitu kerasnya hingga telinganya seolah mendengar dengan jelas tiap degupnya.
Ia mulai percaya dia akan mati sebentar lagi. Matanya terpejam merasakan sakit yang ditimbulkan. Sakitnya melebihi semua siksaan-siksaan yang dia terima sebelum ini.
Nyalinya benar-benar dibuat ciut menjadi butiran debu. Dia ketakutan. Rasa takut yang melebihi ketika rokok cerutu dengan bara diujungnya itu, ditekan sedemikian rupa pada pipi kanannya, ditekan lagi, ditekan lagi.. sampai hidungnya mencium bau sangit karena dagingnya terbakar. Rasa sakit ini juga tak sebanding dengan cambukan tali tambang sekepalan tangan menghujam punggung dan pantatnya yang telanjang. Atau balsem panas yang dioles kasar pada kemaluan dan *&*^&^^&^^ (sensor penulis).
Batinnya meronta dalam ketidakberdayaan. sama tak berdayanya ketika kaki dan tangannya terikat pada kursi kayu ini, setelah mereka puas mencambukimya.
Dia terus mengutuk dibalik semua rasa sakit.Dendamnya menyala seperti bara yang menjadikan api amarahnya menjilat-jilat atas segala penghinaan ini. Matanya dipaksanya untuk tetap menyaksikan slide show di depannya. Seolah tengah mengipasi bara amarahnya sendiri. Anjing! Keparat Sundal kubunuh bila aku punya hidup besok! Atau kalaupun aku tak bisa hidup, dan harus mati di akhir penyiksaan ini, Aku bersumpah! Arwahku akan penasaran dan mengejar sampai ke liang dubur sekalipun! Batinnya terus berteriak teriak kesetanan berpacu dengan degup jantungnya yang makin tak beraturan. Semakin dalam dia saksikan gambar-gambar di slide show itu, amarah dan dendam kesumatnya makin lama makin membatu dan dingin. sedingin es.
Anehnya ini membuat degup jantungnya tak lagi sekeras tadi, juga nafasnya tak lagi memburu, semua sesak yang tadi menghimpit dadanya seakan musnah. Hanya rasa nyeri yang teramat sangat, jauh menjangkau dasar hatinya.
Begitu mereka selesai dengan pertunjukan slide show yang mengguncangnya, mereka pun mengangkut semua peralatan proyektornya, dan serta merta meninggalkannya sendirian dalam ruangan itu tanpa ekspresi yang bisa ditebak, karena semua wajah-wajah itu dibalut topeng hitam. Ia hanya menyaksikan kilatan-kilatan mata, serta mulut yang nyaris tak bergerak.
Mereka tak peduli teriakan-teriakan caci makinya. Atau umpatan-umpatan kasar yang seumur hidup baru kali ini dia ucapkan. Toh tetap saja satu persatu, mereka menghilang di balik pintu kayu, dan mengakhirinya dengan sebuah bunyi klik dari anak kunci yang diputar.
Kini dia sungguh-sungguh sendiri. Terikat dan telanjang.
Matanya menyapu inchi demi inchi ruangan yang mengurungnya, yang tadi belum sempat dia amati. Bagaimana dia bisa amati, dia terlalu sibuk dengan segala pukulan, tendangan atau siksaan-siksaan lain yang membuatnya kehilangan nyali seiris demi seiris. hingga nyaris tak bersisa. Cukup telak mereka membuat nyalinya menjadi hanya sebutiran debu saja.
Ruangan ini sepertinya ruang bawah tanah.Karena dia ingat, kakinya sempat menuruni tangga- sesaat sebelum sampai di ruangan ini, dengan mata tertutup kain. Sejauh matanya memandang nyaris tak ada ventilasi udara selain lubang sebesar paha di setiap sudut plafonnya. Tapi dia sendiri tak yakin itu lubang ventilasi atau bukan. Sedangkan dia tak berdaya dengan tangan dan kaki yang terikat, untuk sekedar mengeceknya. Dindingnya dari batu. Lantainya hanya terbuat dari semen kasar. Semuanya agak gelap disini. Lampu redup itu tak cukup menerangi seluruhnya dengan mengandalkan kekuatan 5 wattnya. Begitu redupnya hingga semua isinya tampak jauh lebih kecil dari bayang-bayangnya. Sebenarnya kondisi ini cukup menyeramkan. Melihat lemari tua disana seperti di telan bayangannya. Juga sebuah kursi disebelahnya dengan bayangannya menyerupai lukisan abstrak yang ganjil. Atau bayangan dirinya sendiri beserta kursi yang didudukinya ini, seolah jelmaan jubah seram berkaki empat. Tapi dia merasa rasa takutnya sudah tak bersisa. Rasanya, semua rasa takutnya telah begitu menyatu dalam roh dan jasadnya yang mungkin tak lama lagi akan mati. Ya bahkan rohnya mungkin akan mati juga, hingga tak akan sempat melayang-layang di udara untuk menyaksikan jasadnya telanjang dan hina itu, yang perlahan-lahan akan dingin, lalu kaku.
B E R S A M B U N G

